Sabtu, 20 Oktober 2012

Wajib CSR: Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2012

"Setiap perseoan selaku subjek hukum mempunyai tanggungjawab sosial dan lingkungan" begitulah kira-kira bunyi pasal 2 dari peraturan pemerintah yang baru saja disahkan oleh presiden. Peraturan pemerintah No. 47 tahun 2012 ini merupakan tindak lanjut dan penjelas dari undang-undang perusahaan No. 40 tahun 2007. Dalam peraturan ini juga disebutkan pada pasal 3, Kewajiban ini berlaku bagi perseoroan yang menjalankan bidang usahanya berkaitan dengan sumberdaya alam. Secara garis besar Peraturan pemerintah ini terkesan memberikan dukungan terhadap kegelisahan pelaku usaha maupun pelaku pembangunan dalam tatanan hukum dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Dalam hal ini, juga disebutkan bahwa tanggung jawab sosial merupakan biaya bagi perseroan seperti disebutkan pada pasal 5. Pada sisi, pemberdayaan penulis mencoba menelaah dampak dari peraturan ini. Beberapa hal yang perlu dan sangat perlu diperjelas adalah dalam alur dan tanggung jawab sosial tidak memperlihatkan upaya pelibatan stakeholder yang sesungguhnya menjadi fondasi dari maksimalisasi pembangunan yang diharapkan oleh pemerintah. Dan perencanaan tanggung jawab sosial terkesan diserahkan sepenuhnya pada otoritas perseroan yang secara prinsip menutup proses kerjasama partisipatif dan melibatkan para pelaku pembangunan sampai pada level akar rumput. Selain itu, belum adanya batasan-batasan penjelas bagaimana tanggung jawab sosial itu di pertanggung jawabkan pada penerima manfa'at maupun pemerintah. Hal lain yang cukup menggelitik adalah tidak tergambar indikator atau tolak ukur sebuah model tanggung jawab sosial yang terukur dan tersturktur. Sehinggan penulis menarik premis awal, lahirnya peraturan ini masih sangat prematur dan membutuhkan penyempurnaan-penyempurnaan yang disana-sini, serta analisis yang lebih terpadu dari dampak serta model sebuah kebijakan.

Arti Penting Taman Baca

Oleh: Dita Rionaldi


“Taman baca di desa? Buat apa?” Saya yakin banyak orang yang berkata seperti itu ketika mendengar rencana pendirian sebuah “Taman Baca” di desa Margomulyo. Secara umum, diakui atau tidak, masih banyak orang orang Indonesia yang tidak suka membaca sehingga mereka tidak tahu apa  itu taman baca. Apalagi untuk daerah "terhimpit pembangunan" seperti di desa kami. Maka dari itu sebelum saya menulis lebih lanjut tentang pentingkah taman baca bagi masyarakat di desa Margomulyo, balen, Bojonegoro, alangkah baiknya saya menjelaskan dahulu apa itu taman baca.

Dari urain setiap kata, kata "Baca" merupakan kata kerja. Contoh kata dalam kalimat ” Saya baca buku” memiliki arti aktif, bahwa saya melakukan sesuatu (membaca). Ketika kata "Taman" dipadukan dengan kata baca maka menjadi susunan kata baru dengan makna yang lebih kuat, ”Taman Baca”. Akhirnya, kalimat "Taman Baca" memiliki makna dan pengertian aktif, yakni "Taman itu memiliki fungsi sebagai tempat membaca".

Kemudian, dari uraian diatas maka kitapun dapat mengambil kesimpulan bahwa pengertian Taman Baca Masyarakat, yaitu tempat membaca bagi masyarkat.

Nah sekarang yang jadi pertanyaan adalah, penting gak sih Taman Baca Masyarakat itu? karena mungkin selama ini, sejumlah fasilitas membaca, seperti perpustakaan, terasa menakutkan karena terkesan hanya orang sekolahan yang masuk ke dalamnya dan hanya orang orang yang berkaca mata tebalah yang cocok masuk ke tempat seperti itu. Adalah Heri Hendrayana Harris, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yang mengatakan bahwa TBM bisa berada di garda depan pemberantasan buta aksara dan menumbuhkan minat baca karena "saking" mudahnya diakses masyarakat, tidak eksklusif, dan membumi. Pada TBM, warga setempat dapat mengakses berbagai referensi, sekaligus menjadi wadah bagi komunitas untuk beraktivitas sesuai karakter dan potensi daerah tersebut. “Taman-taman bacaan yang ada perlu difasilitasi untuk berbagai praktik cerdas dan terbaik pengelolaan sehingga taman bacaan dapat dikelola secara lebih kreatif dan profesional”

Jadi, saya menyimpulkan, Taman Baca dapat dimengerti melalui empat point, yakni:
  • Pemberantasan buta aksara
  • Menumbuhkan minat baca
  • Tidak ekslusif dan
  • Membumi

PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

Aksara adalah jendela dunia, pintu bagi sebuah pendidikan dan pengetahuan. Namun masih banyak orang yang  buta aksara. Padahal upaya pemberantasannya sudah dilakukan oleh indonesia sejak awal kemerdekaan tahun 1945. Tapi kenapa buta aksara tak kunjung terberantas. Apa sesungguhnya masalah yang terjadi?

MENUMBUHKAN MINAT BACA

Membaca tidak hanya untuk orang orang yang berkacamata tebal, orang yang pintar, orang yang perpendidikan, orang yang kutu buku dan lain sebagainya. Namun membaca adalah untuk semua orang, untuk semua kalangan, dan untuk semua umur. Taman Baca Masyarakat sebenarnya sama dengan Perpustakaan untuk masyarakat,  dirubahnya nama menjadi Taman Baca Masyarakat adalah diantaranaya untuk merubah image agar masyarakat tidak merasa takut untuk masuk ke tempat tersebut dan mau mengambil buku dan membacanya.

TIDAK EKSKLUSIF

Perpustakaan yang eksklusif berkesan hanya untuk orang orang dari kalangan ekonomi menengah ke atas sehingga orang orang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang juga membutuhkan ilmu enggan untuk datang ke perpustakaan

MEMBUMI

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, wajar jika kita harus ikut mengimbanginya. Begitu juga dengan perpustakaan, tapi perpustakaan itu sendiri juga harus bisa menyesuaikan dengan lingkungan, dimana “dia” tidak harus mengaplikasikan kecanggihan teknologinya namun harus di sesuaikan dengan konsumenya atau pemustakanya. Untuk apa perpustakaan yang serba canggih dengan sistem serba komputer jika para konsumennya adalah anak anak yang putus sekolah dan anak anak jalanan yang dari kebanyakan mereka tidak paham dengan komputer.

Jadi, manfaat adanya taman bacaan adalah:
  • Menumbuhkan minat, kecintaan dan kegemaran membaca
  • Memperkaya pengalaman belajar dan pengetahuan bagi masyarakat
  • Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri
  • Membantu pengembangan kecakapan membaca
  • Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Meningkatkan pemberdayaan masyarakat
  • Mewujudkan budaya membaca

Semoga sedikit tulisan ini, dapat memberikan gambaran tentang arti penting maupun manfaat membaca dan adanya taman baca masyarakat di lingkungan kita, terutama sekali di Margomulyo, balen, Bojonegoro..

Jumat, 05 Oktober 2012

RENCANA PEMBANGUNAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT DIDESA MARGOMULYO KECAMATAN BALEN,BOJONEGORO

Bangunan dengan ukuran 10X7 m persegi, dengan rancangan berbahan baku bambu dari jenis petung, dengan atap WELIT (alang-alang) dengan suasana di sekitar rumpun pohon bambu, akan menambah kenal nilai pedesaan dengan dilengkapi fasilitas koleksi buku, taman bermain anak dan kolam ikan, tak jauh dari bangunan taman bacaan.

Dibangun dengan anggaran biaya 12 Juta Rupiah, yang berasal dari tabungan pribadi dan sumbangan dari teman-teman, semoga taman bacaan masyarakat akan terealisasikan bulan Oktober 2012.

Senin, 20 Agustus 2012

Taman Bacaan, Tempat Training Bernuansa Pedesaan dan Pusdiklat Peternakan dan Perikanan

Written By DITA RIONALDI & Personal, community development

Inilah cita-cita muluk saya yang sebenarnya agak sungkan saya ekspos disini yaitu membuat taman bacaan yang sekaligus menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan yang saya beri nama SAE “ Sinau Andandani Ekonomi “ lewat budidaya Peternakan dan Perikanan.

Mengapa sungkan ? Karena rasanya akan butuh waktu cukup lama untuk merealisasikannya, terkait dengan besar biaya dan effort yang mesti dikeluarkan. Saya khawatir jadi omdo kalau belum apa-apa sudah bicara terlalu banyak. Mengapa akhirnya tetap saya publikasikan meski agak sungkan ? Karena siapa tahu hal ini akan mendorong saya jauh lebih bersemangat dalam merealisasikannya.

Membuat taman bacaan dan membuat usaha budidaya adalah cita-cita saya sejak lama yang didorong oleh hobby saya membaca buku dan berwirausaha. Taman bacaan yang saya cita-citakan bukan sekedar bangunan tempat untuk membaca buku melainkan berfungsi sebaga tempat anak-anak untuk belajar berkarakter dan bermain. Saya pernah berpikir apakah akan membuatnya di tempat tinggal saya sekarang di Surabaya atau di tempat kelahiran saya sekaligus tempat tinggal istri saya di Bojonegoro. Setelah mempertimbangkan nilai-nilai positifnya, saya memutuskan untuk membuatnya di kota kelahiran saya dan desa tempat tinggal istri saya di Margomulyo Balen Bojonegoro.

Pertimbangannya sederhana,mengutip puisinya Balada si Roy : “ karena di sana aku ada, besar, nakal dan mimpi-mimpi “

Rencana berikutnya adalah membuat lokasi training Peternakan dan Perikanan dengan suasana yang lebih santai. Lokasi training sekaramg sebenarnya sudah memadai namun saya ingin membuat dan memiliki lokasi training yang lebih nyaman, menentramkan dan bersuasana pedesaan. Harapannya,  para peserta training yang sebagian besar bekerja dibidang pembudidaya bisa sekalian berlibur selama menjalani proses pelatihan.

Dari sisi komunitas rencana saya adalah membuat semacam Pusat pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Peternakan dan Perikanan. Jika nanti ada rekan-rekan yang ingin mengadakan kopdar atau acara ngoprek bareng yang bersuasana santai dengan aura lingkunganm pedesaan bisa menggunakannya secara leluasa. Hal ini merupakan bagian dari sinergi saya dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat karena pada dasarnya Team yang saya bangun berasal dari komunitas juga.

Seorang boss perusahaan klien di daerah Wonokromo pernah berkata bahwa cita-cita saya itu bagus tapi perlu uang banyak sekali. Ia berkata bahwa kalau saya sudah kaya raya mungkin bisa mewujudkannya. Meski komentarnya terasa kejam dan pedih (hahaha), saya menerimanya dengan baik karena memang demikian adanya. Masalahnya, kalau menunggu kaya, kapan kayanya dong ah.

Itu sebabnya ketika beberapa waktu lalu istri saya mengabari ada tanah yang disewakan, saya berusaha keras untuk menyewanya. Niat omong kosongnya sih saya ingin membeli tanah paling tidak seluas 1000 M2. Masalahnya, tanah segitu harganya nggak kira-kira. Kalau saya menunggu uang saya cukup mungkin tidak akan pernah cukup sehingga akhirnya saya memutuskan untuk menyewa. Dengan uang tabungan, uang pinjaman dari adik dan kakak ditambah dengan beberapa pendapatan dari project Pelatihan di PT Badak LNG Kaltim. Saya akhirnya menyewa tanah seluas 700 M2. Tanah tersebut masih berupa tanah tidak aktif dengan beberapa tanaman bambu diatasnya.

Saya menginginkan baik taman bacaan maupun tempat training dan Pesdiklat akan berbentuk saung dengan kolam ikan, tempat mancing dan peternakan sapi atau kambing dengan pakan konsentrat sehingga tidak menimbulkan bau kotoran hewan ternak tersebut.

Saat beberapa pekan lalu saya berkunjung ke tanah yang baru saya sewa, wujudnya masih berantakan. Masih dalam bentuk tanah yag belum rata dan banyak pohon bambu disana-sini. Imajinasi saya mulai bermunculan jauh pengembangan ke depan tentang pemberdayaan masyarakat dan perputaran ekonomi yang sustainable di desa saya tinggal.

Saya tahu mungkin jalannya akan terjal dan berliku dalam mewujudkan niat diatas namun namanya juga usaha, siapa tahu bisa terwujud meski saya harus bekerja keras dan cerdas untuk merealisasikannya. Saya berharap di tahun 2013 mungkin sudah bisa menambah luas tanah sekaligus menambah beberapa fasilitas yang bisa langsung dijadikan sebagai tempat untuk ngoprek atau menginap.

Semoga saya bisa merealisasikannya dan tulisan ini tidak sekedar menjadi prasasti mimpi-mimpi saja. Dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih sepuluh jari saya haturkan kepada istri saya tercinta, kang Tondo, kang Candra, kang To’ib,kang fauzi,kang pinto dan kang Imam dan teman-teman yang belum saya sebut namanya dalam membantu mewujudkan mimpi-mimpi saya.

                                               

Dita Rionaldi, Pemuda Pelopor Juara I Tingkat Nasional (Kelautan) Tahun 2011, mengembangkan edukasi, rehabilitasi, sebagai bahan baku makanan, dan obat-obatan di Kelompok Tani Mangrove Wonorejo Surabaya.

Senin, 06 Agustus 2012

KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN NILA

1.      SELAYANG PANDANG

Dengan mengucap syukur pada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyajikan sekelumit cerita dalam bentuk selayang pandang yang dikemas dalam perjalanan awal mula berdirinya Pokdakan dari kota Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

Berangkat dari semangat dan niat yang ikhlas, kesediaan berkorban segelintir pemuda, warga sekitar untuk menjadikan sebuah kampung percontohan budidaya perikanan air tawar sekaligus menjadi pusat paltihan dan pendidikan yang kami beri nama “SAE” (Sinau Andandani Ekonomi) lewat pengukuhan dari Kepala Desa setempat pada tahun 2009 kami memulai sebuah perjalanan dengan tujuan mengingkatkan SDM dan dapat menambah pendapatan perekonomian keluarga lewat potensi perikanan dalam arti luas. Didalam sebuah perintisan yang bermula hanya lima orang banyak mengalami kendala dalam hal cara budidaya ikan yang benar. Kurangnya informasi pada waktu itu membuat kami mengalami kegagalan sehingga mengakibatkan budidaya kami merugi, akan tetapi semua itu tidak mengurangi semangat untuk mengulanginya lagi. Kami terus berkarya walapun masih banyak orang-orang disekitar kita belum banyak yang mendukung usaha budidaya kami ini,

mulai dari pengambilan ikan secara sembunyi-sembunyi sampai ada pihak yang kurang mendukung dalam kegiatan akan tetapi kami sadar bahwa semua itu adalah sebuah proses yang kami hadapi untuk menjadikan kami sebuah pupuk semangat kami berinovasi. Waktu demi waktu kami lalui dengan mengumpulkan informasi-informasi perikanan pada dinas terkait demi keberlangsungan usaha budidaya Pokdakan SAE, dukungan arahan dari semua pihak membuat pokadakn SAE mulai berbenah dari pemilihan jenis ikan yang tepat dengan kondisi lingkungan sampai pakan alternative yang berkualitas dan terjangkau mulai kami lakukan. Pada saat itu jatuh pada jenis ikan air tawar yaitu ikan nila karena budidaya yang kami lakukan menggunakan tambak tidak berair deras.

Keberhasilan mulai kami rasakan dengan hasil panen yang melimpah dengan harga yang tinggi dipasaran membuat kami terus mengembangkan budidaya ikan nila sampai saat ini. Kami berharap bahwa perubahan pola piker dan pola sikap masyarakat dapat menjadi modal penting dalam upaya pengembangan usaha budidaya ikan nila demi kepentingan dan aktivitas manusia dala meningkatkan sebuah perekonomian.

2.      NAMA KELOMPOK                 : SAE (Sinau Andandani Ekonomi)

ALAMAT
·         Desa                                        : Margomulyo
·         Kecamatan                              : Balen
·         Kabupaten / Kota                    : Bojonegoro
·         Propinsi                                   : Jawa Timur

3.      PERKEMBANGAN JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK
Pada awalnya berdirinya kelompok yaitu ditahun 2009 anggota kelompok berjumlah 5 orang dengan berjalannya waktu perkembangan usaha budidaya ikan nila di desa kami semakin terasa manfaatnya yang tentunya berdampak pada meningkatnya perekonomian para anggota sehingga banyak anggota baru yang masuk dikelompok SAE (Sinau Andandani Ekonomi) yang pada saat ini anggota berkembang menjadi 15 orang.

4.      ORGANISASI SERTA TUGAS DAN FUNGSI
Organisasi yang baik adalah wadah berkegiatan yang nyaman dengan segala dinamikanya. Pokdakan SAE juga telah melakukan pengembangan keorganisasian dan memperluas jangkauan. Dari hanya sekedar budidaya perikanan menjadi aspek kegiatan yang lebih luas.

Struktur Organisasi Pokdakan SAE (Sinau Andandani Ekonomi)


Dalam hal ini penilaian lomba perikanan budidaya 2012, masuk dalam devisi budidaya ikan, pengolahan dan pemasaran secara garis besar. Adapun tugas-tugas dari devisi budidaya perikanan adalah :

F Koordionator yang bertugas membawahi semua pelaksana budidaya perikanan diantaranya dibidang pembibitan dan pembesaran.

5.      KELAS KEMAMPUAN DAN PENGUKUHAN KELOMPOK

Pokadakan SAE (Sinau Andandani Ekonomi) dikukuhkan oleh Kepala Desa Margomulyo pada tahun 2009 dan dibawah binaan dinas peternakan dan perikanan kabupaten Bojonegoro.

6.      KOPERASI PEMBINA DAN MITRA USAHA LAINNYA
a.      Koperasi Pembina     :
b.      Mitra Usaha 
Pengembangan kegiatan budidaya ikan nila tak lepas dari kiprah kelompok dalam melakukan komunikasi dengan dunia luar, dan secara terus menerus. Aktif dalam mengkampanyekan pembudidayaan ikan air tawar. Hubungan perkenalan dengan dosen muda di fakultas perikanan universitas Airlangga, Sapto Andriyono, S.Pi, Penambah peran aktif kelompok diperikanan air tawar. Selain itu Pokdakan SAE juga secara aktif melakukan komunikasi insentif dengan dinas peternakan dan perikanan kabupaten Bojonegoro dalam rangka pengembangan budidaya perikanan.

7.      JUMLAH ANGGOTA YANG MENJADI PENGURUS KOPERASI :
-          Tidak ada

8.      USAHA POKOK DAN USAHA PENUNJANG KELOMPOK

Usaha pokok yang dimiliki kelompok SAE (Sinau Andandani Ekonomi) adalah :
a.       Budidaya ikan nila
b.      Pemasaran

Usaha penunjang kelompok SAE (Sinau Andandani Ekonomi) :
a.       Produksi Probiotik dan fermentasi pakan peternakan dan perikanan
b.      Produksi dan pemasaran olahan perikanan berupa krupuk ikan nila

9.      DATA PRODUKSI USAHA POKOK KELOMPOK

10.  FASILITAS YANG DIMILIKI KELOMPOK

Adalah sebagai berikut :
a.       Kolom pembudidaya
b.      Peralatan budidaya : 2 mesin diesel, alat tangkap
c.       Peralatan olahan berupa oven manual, alat potong krupuk alat press packing
d.      Gubuk jaga

11.  PRESTASI YANG PERNAH DICAPAI ANGGOTA DAN KELOMPOK
a.       Anggota
1.      Juara I pemuda pelopor Tingkat Nasional Tahun 2011 Bidang kelautan di Kementrian pemuda dan olahrga
2.      Pendampingan pemberdayaan masyarakat pesisir Surabaya dikelompok tani Mangrove, Wonorejo, Surabaya
3.      Sertifikat Budidaya ikan yang mendukung

Sabtu, 14 Juli 2012

Bojonegoro di masa lampau

Foto koleksi Tropenmuseum Belanda ini berangka tahun 1900-1940, yang diambil di Bojonegoro. menggambarkan besarnya pohon jati di daerah Bojonegoro saat itu. Kredit titel foto ini adalah "Repronegatief. Oude djati-bomen, Bodjonegoro, Midden Java" yang berarti : Repro Negatif. Pohon jati lama , Bodjonegoro, Jawa Tengah.

Hmm, masih masuk jawa tengah ya, Bojonegoro.

Jumat, 13 Juli 2012

Penghargaan Pemuda Pelopor dan PSP-3



Menpora Andi Mallarangeng foto bersama pemuda peraih penghargaan Pemuda Pelopor dan PSP-3 di halaman kantor kemenpora  jumat (28/10) malam. (foto: tyo/kemenpora.go.id)
Menpora Andi Mallarangeng foto bersama pemuda peraih penghargaan Pemuda Pelopor dan PSP-3 di halaman kantor kemenpora jumat (28/10) malam. (foto: tyo/kemenpora.go.id)
Jakarta: Menpora Andi Mallarangeng hari Jumat (28/10) malam menyerahkan penghargaan Pemuda Pelopor dan PSP-3 (Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan) kepada beberapa pemuda yang dinilai berhasil. Penyerahan penghargaan dilakukan di halaman Halaman Kantor Kemenpora, sebelum dimulainya pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wisanggeni Kridha oleh Ki Mohamad Pamungkas Prasetyo Bayu Aji.
Menpora memberikan apresiasi besar kepada para pemuda yang bisa menghasilkan karya-karya terbaiknya dalam segi apapun, misalnya di bidang teknologi, pertanian, dan pedesaan. "Terima kasih kepada para pemuda pelopor dan penggerak di pedesaan yang sudah berhasil membuat karya terbaiknya. Ini menjadi bukti bahwa pemuda Indonesia siap bersaing dalam menghadapi perkembangan jaman yang semakin maju," kata Andi.
Tujuan diselenggarakannya pemilihan ini antara lain mendapatkan pemuda-pemuda terbaik sebagai pemuda andalan nusantara dari berbagai bidang, dan memberikan penghargaan kepada pemuda andalan nusantara sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap prestasi yang telah mereka tunjukkan
Asisten Deputi V Bidang Penghargaan dan Promosi, Yuni Purwanti kegiatan yang telah menjaring 40 peserta dari 16 povinsi ini diharapkan setiap tahunya selalu diberikan apresiasi yang baik oleh pemerintah dan para pemuda pelopor ini bisa memberikan sebuah karya dan ide-ide terbaiknya yang bisa dikembangkan terus ke masyarakat luas.
"Kriteria pemuda pelopor ada 5, yaitu menunjukan kepeloporan (pioneer) dalam berkarya, memiliki karya cipta yang bermanfaat bagi masyarakat, memiliki konsistensi dalam mengembangkan karya ciptanya, memiliki keteladanan di masyarakat dan memiliki integritas keimanan dan ketaqwaan," kata Yuni Purwanti.
Daftar Penerima Penghargaan Pemuda Pelopor dan PSP-3:
Pemuda Pelopor:
1. Bidang Pendidikan, Thantien Hidayati (Jawa Timur)
2. Bidang Kelautan, Dita Rionaldi (Jawa Timur)
3. Bidang Teknologi Tepat Guna, Wahyu Arrozi (D.I Yogyakarta)
4. Bidang Kewirausahaan, I Gede Andika Prayatna Sukma (Bali)
5. Bidang Seni Budaya dan Pariwisata, Dody Eka (Kalimantan Tengah)
Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan:
1. Maya Valentina (Sumatera Barat)
Wirausaha Muda Terbaik:
1. Ii Hurairoh (D.I Yogyakarta)
(amr)

Jumat, 28 Oktober 2011, 23:45 WIB